Yuhuuuuu, ga terasa udah jadi mahasiswi tingkat akhir tahun 2015 ini. Waktunya untuk bergalau ria mencari tempat magang yang pas di hati. Perjuangan mencari tempat magang udah gue rasakan ketika masih masa-masa liburan semester 4. Waktu libur yang cukup panjang gue manfaatin buat mikirin tempat magang bukan mikirin DIA! Berawal dari mimpi gue yang pengen banget terjun di dunia jurnalis sebagai reporter, gue memutuskan untuk memilih majalah sebagai medianya. kenapa ga televisi yang bisa ketemu artis? atau kenapa ga koran yang bakal setiap hari cari berita? jawabannya karena kalau di televisi gue ngerasa masih belum mampu dan karena koran terbit setiap hari, so gue ga mau ngeliput tiap hari tanpa henti. Jatuhlah pilihan gue pada majalah.Selain tulisan di majalah yang ringan, gue ngerasa proses peliputan majalah seru banget dan bakal banyak pengalaman and pelajaran yang bisa gue ambil.
Oke, saat ini gue punya beberapa pilihan majalah yang bakal gue ajuin permohonan magang. Pilihan pertama jatuh pada majalah Femina. Majalah wanita ini memang punya banyak anak perusahaan seperti Gadis, Ayahbunda, Women's Health (kalau mau tau lebih banyak buka web femina geng). Pilihan kedua gue dapet referensi dari broadcast di grup tentang Nylon Magazine. So, ga ada salahnya gue coba ajuin ke sana. Dua minggu sebelum masuk perkuliahan semester 5, gue udah persiapin berkas-berkas, seperti CV. surat permohonan magang pribadi, and portfolio yang akan gue kirim melalui email untuk dua majalah tersebut. Mengingat pesan dosen yang ga boleh kirim CV ke dua perusahaan sekaligus, akhirnya gue memilih satu perusahaan yang akan gue utamakan, yaitu Femina Group.
Akhirnya, terkirimlah semua berkas-berkas penting itu ke email Femina Group dengan diiringi panjatan Doa-doa harapan agar cepat mendapat balasan email. The time for waiting. Gue harus terbiasa menunggu. Menunggu jawaban dari perusahaan. Satu minggu berlalu, setiap pagi kerjaan gue diawali dengan ngecek email. Pagi berlalu, siang sebelum makan gue cek email, sore sebelum mandi gue cek email, dan malam pun sebelum tidur gue cek email. Satu minggu berlalu tanpa kabar dan mungkin gue harus lebih sabar dan banyak berdoa biar dia cepat ngabarin(?)
Memasuki minggu kedua. Liburan gue hampa banget rasanya karena dihiasi dengan ketidakpastian. Ga ada yang berubah dari hari-hari gue di minggu kedua ini, gue tetap melakukan pengecekan email setiap saat. Salah satu sahabat gue Dea Karina juga melakukan hal yang sama. Doi coba untuk mengajukan magang di Femina Group yang membuat gue punya saingan untuk mendapatkan posisi di sana.
Alhasil, dua minggu berlalu tanpa kabar lagi.
Proses galauin magang ga berhenti sampai situ, gue pikir dengan sudah mulai masuk kuliah rasa galau itu perlahan hilang karena ketemu banyak temen. Ternyata gue salah, rasa galau itu makin parah. Gue yakin, galau ini penyakit yang menular karena semester ini satu kelas merasakan galau yang sama. Semua sedang berjuang pada jalannya masing-masing. Persaingan tempat magang makin terasa, keegoisan pun mulai terlihat. Tapi kami yakin, rezeki ga akan kemana-mana dan sudah ada yang mengatur.
Memasuki minggu kedua di bulan September, gue ngerasa sepertinya gue ga bisa berdiam diri menunggu keputusan melalui email. Gue memutuskan bersama Dea untuk memfollow up CV yang telah gue kirim email ke kantor pusat Femina di kuningan.
Awal perjalanan hanya memodalkan abang Gojek tercinta dengan memasukkan alamat lengkap Femina di Kuningan. Dari yang gue ga pernah naik ojek karena mahal, hingga sekarang gue jatuh cinta sama kendaraan umum yang baru ini, yaitu Gojek. Ga pake nyasar, ga pake lama, ga pake ribet, sampai lah gue pada sebuah gedung tinggi bertuliskan Wisma Kodel yang menjadi kantor pusat Femina Group. Masuk ke dalam gedung tak lupa untuk bertanya, karena gue percaya orang yang malu bertanya akan sesat di jalan. hahaha
"Permisi pak, kalau mau ketemu HRD femina di lantai berapa ya?" Tanya gue
"Ooh kalau HRD nya bukan di sini mba, gedungnya di belakang gedung ini, Mba keluar aja nanti ada pintu kecil buat jalan tembusan ke sana. Jadi, lebih deket. Tunggu aja di sini, nanti ada karyawan femina, jadi bisa bareng ke sana." Kata Satpam.
"Oke, makasih pak"
Kurang lebih 5 menit gue nunggu, gue bertemu dengan samlah satu karyawan Femina yang akan mengantar gue menuju ruangan HRD. Jalannya ga jauh, lewati pintu tikus yang hanya boleh di lewati oleh karyawan Femina (katanya).
Sampailah gue di gedung Manesa 2, gue naik ke lantai 2 dan bertemu dengan salah satu karyawan Femina yang berbeda.
"Pagi pak, saya Meilita Adhiyanti mahasiswi dari Politeknik Negeri Jakarta, saya ingin mengajukan magang di Femina, bisa bertemu dengan HRD nya pak?" Ucap gue dengan sopan.
"Ohh, iya tapi HRD nya lagi cuti mba. mba bisa titip berkasnya aja di saya, nanti saya sampaikan ke HRDnya." Ucap bapak itu.
"Yaudah kalau memang bisa di titip, tapi tolong pastikan baca ya pak HRD nya karena sebulan yang lalu saya sudah kirim email, cuma belum ada balasan."
"Iya mba, nanti saya simpan di mejanya."
"Oke terima kasih pak, permisi."
Langkah gue aga sedikit hopeless. Yakin ga yakin sih, tapi kan kita udah usaha siapa tau ga sia-sia.
Hari demi hari gue lalui dengan penuh kegalauan, napsu makan berkurang, tidur tak nyenyak, ketawa sama temen-temen pun seakan terpaksa. Rasanya masih belum bisa bernapas lega.
Satu minggu berlalu, suasana kelas mulai mencekam karena mulai pusing di php-in perusahaan. Gue pun sama, Femina belum ada kabar selanjutnya, sedangkan kampus harus deadline awal November harus magang.
Dua minggu berlalu dengan kondisi yang sama. Femina tak lagi berkabar. Minggu pertama di bulan Oktober, gue memutuskan untuk datang lagi kedua kalinya ke kantor Femina di Kuningan.
Hari itu gue ga lagi ditemenin abang Gojek ke kuningan, gue mencoba untuk menggunakan kereta yang nyatanya lebih murah. Dari bekasi, turunlah gue di Stasiun Sudirman, Dari sana gue harus jalan hampir 1 Km yang cukup membuat kaki gue rasanya mau patah. Tapi ga terasa lelahnya, mungkin karena selama perjalanan gue sama Dea ga berenti ketawa dengan khayalan-khayalan konyol kita. Yah beginilah rasanya berjuang. Kalau lo mau dapetin kebahagiaan nyatanya lo harus ngerasain dulu gimana menderita. Sampailah gue di kantor Femina dan gue coba menanyakan bagaimana nasib permohonan magang gue ke receptionist.
"Pagi mba, saya Meilita Adhiyanti mahasiswi dari Politeknik Negeri Jakarta, saya ingin menanyakan perihal berkas yang saya sampaikan ke HRD 2 minggu lalu untuk magang. Kelanjutannya bagaimana ya mba?" Tanya gue dengan nada penuh harapan.
"Ooh, sebentar ya saya hubungi HRDnya dulu." (Doi ngobrol di telfon) yang akhirnya dea disuruh ngomong via telfon sama HRDnya.
*gue nyimak obrolan mereka*
Hasil dari obrolan antara Dea dan HRD itu adalah gue dan dea tetap harus menunggu, tapi yang buat gue sedikit lebih lega adalah berkas-berkas gue sudah beliau baca dan tinggal di pertimbangkan. yaaaa, sedikit lebih maju lah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar